Entri Populer

Jumat, 23 Juli 2010

Kerusuhan Pertama Di Era Orde Baru


Peristiwa berdarah di era Orba ini terjadi tiga puluh enam tahun yang lalu. Ya! tepatnya 15 Januari 1974, di mata masyarakat Indonesia waktu itu peristiwa ini terjadi lantaran penolakan para mahasiswa yang di motori oleh mahasiswa UI dan Trisakti atas buntut dari konjungan PM Jepang saat itu Kakue Tanaka, mahasiswa menolak masuknya modal asing (Jepang) ke Indonesia, dan peristiwa ini merupakan klimaks atas kunjungan ketua IGGI Jan Pronk sebelumnya, dimana Pronk menghembuskan pemikiran perlunya arus modal asing masuk ke Indonesia untuk menumbuhkan perekonomian bangsa. Konsep ini memang di dukung oleh kelompok alumnus Universitas Barkeley, yakni Ali Wardhana dan Widjojo Nitisastro, dimana konsep ini di tentang oleh para mahasiswa yang menginginkan berpijak di atas kaki sendiri membangun perekonomian bangsa melalui konsep koperasi yang dibangun oleh Bung Hatta.

Namun perseteruan yang timbul dipermukaan bukanlah dua hal tersebut di atas, setelah peristiwa berdarah itu berlalu sekian lama, maka baru dimengerti bahwa konsep pembangunan ekonomi itu hanya jembatan belaka buat dua jenderal yang sedang berseteru. Peristiwa tiga puluh enam tahun yang lalu itu bagi saya yang baru duduk di kelas lima Sekolah Dasar belumlah mengerti benar apa yang sesungguhnya terjadi di negeri ini, namun ekses dari peristiwa itu yang saya ingat adalah Ayah saya sebelum berangkat kerja telah menulis dengan huruf besar di atas karton "BUATAN ITALIA" untuk mobil Fiat 125 kesayangan kami kala itu, sementara Datsun pick up yang nota bene buatan Jepang, selama kerusuhan itu tidak pernah dikeluarkan (takut di jarah dan dibakar)

Untuk ukuran anak yang baru duduk di bangku SD saya sudah tergolong nekat untuk menyaksikan secara langsung peristiwa berdarah pertama di era Orba. Bagaimana situasi sepanjang jalan Jenderal Sudirman sudah banyak mobil-mobil buatan Jepang, baik kendaraan pribadi maupun umum (kebanyakan taksi) yang di bakar oleh massa, sedangkan show room Astra dibilangan jalan yang sama sebelum ludes dibakar terlebih dahulu di jarah oleh massa yang jumlahnya sudah mencapai ribuan. Saya terus beregerak (jalan kaki) dari Pejompongan menuju Senen, untuk melihat bagaimana aksi massa menjarah toko-toko emas di sana (Pasar Senen kala itu masih jadi pusat belanja mewah di Jakarta di samping Sarinah).

Aksi massa yang semakin tidak terkendali itu membuat aparat keamanan melakukan tindakan represif kepada massa yang bergerombol di jalan, kami di kejar hingga ke jalan Salemba Raya, disini saya ingat betul karena saking banyaknya massa yang berhamburan tidak karuan saya kesandung salah seorang yang jatuh karena panik, maka sayapun ikut terjatuh, dan secara bersamaan tukang becak yang dibelakang saya dengan paniknya mengayuh becaknya sekuat tenaga hingga melindas tubuh saya, bahkan seorang tentara yang mengejar massa pun dengan gagah perkasanya menginjak tubuh saya (apes bener udah kelindes becak masih diinjak pulak).

Tidak ingin menjadi bulan-bulanan tentara saya pun lari sekuat tenaga hingga ke arah Jalan Diponegoro, tidak ingat di rumah siapa dibilangan jalan itu saya melompati pagar (cari selamat), tapi naas paha kaki kiri saya tersangkut pagar yang berujung cukup tajam sehingga membuat paha bagian dalam saya sobek (kini membekas dan jadi kenangan manis perjalanan hidup saya), saya tinggal sendirian, entah di mana teman-teman saya yang lainnya, yang jelas menjelang sore saya baru bisa sampai di rumah dalam keadaan badan sakit-sakit dan terluka, dan ternyata saya lah yang pulangnya paling akhir, tiba di rumah orang tua sudah panik dengan keadaan saya, tapi saya terpaksa berbohong (daripada gak boleh main lagi) bahwa luka yang ada di paha kiri akibat main bola.

Berikut ini saya ambilkan artikel dari Blog Last Stand Hero yang mencoba mengungkap sedikit peristiwa Malari 1974 itu.

Konspirasi Dua Jenderal Dibalik Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974


Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974

Kerusuhan Malapetaka 15 January 1974 merupakan peristiwa yang menarik untuk diketahui, peristiwa ini adalah tonggak kerusuhan massa terbesar selama rezim Soeharto berkuasa,peristiwa ini terjadi saat perdana menteri Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Indonesia, para demonstran yang kebanyakan berasal dari mahasiswa memanfaatkan moment ini untuk berujuk rasa besar besaran dalam rangka menolak masuknya dominasi asing khususnya Jepang dalam kegiatan perindustrian dan perdagangan di Indonesia yang berujung pada kerusuhan,penjarahan dan pembakaran aset aset pemerintah maupun masyarakat biasa.

Para mahasiswa yang terlibat kebanyakan berasal dari Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti ini dituduh ditunggangi organisasi massa dan kepemudaan tertentu semisal PSII, HMI dan bekas Masyumi ,karena aksi mereka berujung pada tindak anarkis,sediktnya 11 orang meninggal,300 orang mengalami luka ,775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak atau dibakar ,144 bangunan rusak, dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan di Jakarta,bahkan proyek pembangunan Senen yang bernilai milyaran rupiah pada saat itu ikut hangus terbakar,namun pada saat itu media massa hanya memberitahukan peristiwa yang dapat terlihat secara kasat mata, informasi tentang puluhan mahasiswa dan penggerak massa dijebloskan ke penjara dengan status tahanan politik(tapol) serta aktivis yang hilang secara tiba tiba ,alpha dari pemberitaan,bahkan masyarakat ataupun mahasiswa mahasiswa itu sendiri baru mengetahui setelah rekannya banyak yang hilang secara misterius dan pada tahun 1990an Ramadhan KH dan Heru Cahyono dalam bukunya mencoba menguak fakta tentang penjemputan paksa orang orang yang terlibat dalam peristiwa malari ini dirumah mereka masing masing,seperti yang terjadi pada Salim Hutajulu(Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Ilmu Sosial kala itu),Hariman Siregar(ketua Dewan Amanat Mahasiswa) tak luput juga Syahrir dan Dorodjatun Kontjoro Jakti(eks MekoPerekonomian zaman Megawati)yang masing masing dijebloskan ke penjara selama enam tahun.

Para mahasiswa mengepung bandara Halim Perdanakusumah yang sedianya digunakan untuk menjemput PM Jepang kala itu, Kakuei Tanaka,mereka mencoba menerobos masuk ke Pangkalan Udara tersebut namun tidak berhasil karena sudah dijaga aparat secara ketat, sebab pemerintah sudah mencium akan adanya aksi massa itu sehingga pemerintah menjemput PM Tanaka dengan helikopter dari Bina Graha langsung ke Istana Negara tanpa melakukan iring iringan kendaraan yang lazim dilakukan untuk menjemput tamu negara.

Sebenarnya aksi para mahasiswa dan sejumlah organisasi yang diduga menunggangi kerusuhan ini merupakan klimaks dari kunjungan ketua IGGI asal Belanda Jan Pronk yang menghembuskan pemikiran masuknya modal asing guna menguatkan perekonomian Indonesia, mereka memanfaatkan momen itu untuk menolak kebijakan Soeharto dan Orde Barunnya kala itu,pada masa itu ada dua kubu dengan pemikiran yang berbeda dalam menerapkan kebijakan startegi pembangunan kubu yang pertama adalah kubu Hatta yang menitikberatkan pada koperasi , kubu ini cenderung lebih nasionalis namun sosialis.Kubu Hatta sangat menekankan pada pemerataan. Sedangkan kubu yang kedua adalah kubu Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana serta kawan kawanya yang lain yang sama sama alumnus University California of Berkeley, para pengamat di lingkungan akademisi dan pers menyebut mereka mafia Berkeley, kubu ini mengadopsi teori Adam Schwarz dari AS yang mengagungkan pembangunan ekonomi dari pertumbuhan dengan motivasi akan terciptanya trickle down effect atau efek merembes ke bawah alias otomatis terjadi pemertaan dengan sendirinya atau dapat dikatakan mereka menerapkan kapitalisme gaya Indonesia .Soeharto lebih menyukai dan akhirnya menerpkan teori Widjojo dan Ali Wardhana ini, Soeharto berharap dapat menutup luka lama orde lama yang dianggapnya tidak baik.

Setahun sebelum peristiwa malari ini memang sudah ada cikal bakal pemberontakan dari kalangan akdemisi guna menjatuhkan kewibawaan orde baru, salah satunya adalah perkumpulan aktivis aktivis yang tergabung dalam Grup Diskusi UI atau GDUI termasuk Dorodjatun Kontjoro Jakti ( mantan menko perekonomian pada kabinet Megawati) dan Sjahrir (Ketua umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru).Aksi lebih nyata pun pernah terjadi dengan skala yang lebih kecil seperti Mahasiswa Menggugat dan Golongan Putih, namun kedua aksi tersebut tidak mampu melibatkan aksi masa yang besar.
Hal yang perlu dicatat setelah peristiwa ini meletus adalah lebih ketatnya Soeharto mengawasi aksi mahasiswa , menerapkan kembali secara tegas undang undang subversif dan tidak ragu menjebloskan seseorang maupun kelompok ke penjara sebagai bentuk preventif dan juga represi.

Dua Jendral Dibalik Peristiwa Malari

Secara awam ,kita mengenal Malari sebagai tindakan kerusuhan yang disebabkan kekecawaan masyarakat terhadap pemerintahan diktator dan totaliter Soeharo yang diwakili oleh kaum intelektual seperti mahasiswa, namun banyak orang yang percaya bahwa Malari merupakan hasil konspirasi dan buah persaingan antara dua jenderal.Jendral yang dimaksud adalah Jendral Ali Moertopo dan Soemitro, hal serupa sebenarnya dapat kita amati pada persaingan antara Wiranto dan Prabowo pada tahun 1998.
Meminjam istilah dari Chalmers Johnson kedua jenderal tersebut dapat disebut sebagai scorpion general(Blowback,2000) sebab seorang Ali Moertopo dan Soemitro merupakan dua tokoh militer yang sentral dalam peristiwa tersebut, mereka memiliki kekuasaan dan berdalih lawanya yang melakukan konspirasi tersebut.

Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi (eksterm kanan) adalah dalang peristiwa tersebut, Ali Moertopo menuduh oknum inilah yang merasuk dalam gerakan mahasiswa.Dalam buku tulisan Cahyono,Jendral Ali Moertopo justru mendalangi peristiwa Malari berasama CSIS-nya, ia juga menambahkan bahwa Ali Moertopo dan Soejono Humardani yang kala itu keduanya menjabat sebagai Asisten Pembantu Presiden malahan membina hubungan dengan pemimpin eks DI/TII dalam sebuah organisasi dengan nama GUPPI(Gabungan Usaha Perbaikan Perbaikan Pendidikan Islam), Hal yang cukup menariksebab walaupun belum terbuti atau belum ada satupun orang yang berani membuktikan kebenaran ini dan sampai sekarang masih berwujud prasangka ataupun dugaan namun pada masa orde baru pemanfaatan unsur islam radikal terus terjadi pada masa itu.

Sebaliknya Ali Moertopo justru menuduh balik Soemitro,kala itu Soemitrio menjabat sebagai Panglima Komkabtib sedangkan Ali Moertopo menjabat sebagai Asisten Pribadi Presiden baersama S. Humardani, Letnan Soeryo, dan Mayjen Tjokropranolo. Ia menganggap Soemitro sebagai “orang luar” yang seharusnya bertanggung jawab dalam kerusuhan itu. Pandangan Ali Moertopo terhadap Soemitro
Era dimana peristiwa Malari meletus, Soeharto membentuk “Guardian General” atau jendral penjaga yang tugasnya kurang lebih mengawal pemerintahan Soeharto yang totaliter, ada empat orang yang berindak sebagai satgas disini, semisal S.Huamrdai,Soeryo,Tjokoropranolo dan Ali Moertopo. Sebelum bertugas di Aspri Ali Moertopo adalah Wakil Ketua Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara), ia adalah orang yang berkiprah besar dalam dunia intelijen Indonesia, bersama S. Humardani ia merintis CSIS ( Center for Strategic and International Studies) yang merupakan lembaga penelitian terhadap kebijkan pemerintah khususnya aksi dalam bentuk intelijen internasional ia juga menerbitkan tulisan Dasar-dasar Pemikiran tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun yang selanjutnya diterima MPR sebagai strategi pembangunan jangka panjang (PJP).Kedekatanya dengan Soeharto yang mengakibatkan dirinya sebagai salah satu Aspri dan Menteri Penerangan pasca Malari dimulai saat memulai kiprahnya sebagai anggota militer, ia tergabung dalam Banteng Raider dibawah komando Ahmad Yani dalam menumpas radikalis Islam Darul Islam,Ali kala itu mendukung Letkol Soeharto sebagai Pangdam Diponegoro ,akhirnya Soeharto berhasil dipilih dan sebagai imbalanya Ali Moertopo diangkat sebagai Asisten Teritorial sebelum akhirnya ia ditarik ke Jakarta untuk menduduki beberapa jabatan strategis disana.

Ali Moertopo menganggap Soemitro sebagai orang yang tidak setia kepada Soeharto, ia dan kawan kawanya di Aspri menganggap manuvernya di Pangkomkabtib terlalu berbahya bagi kelangsungan kekuasaanya sebagai pembisik presiden di tingkat atas.
Dalam sebuah dokumen Ramadi disebutkan bahwa Soemitro menggalang dukungan di kampus kampus, lebih lengkapnya Ramadi yang dikenal dekat dengan Ali Moertopo menyebutkan bahwa ada jendral yang berinisial S yang akan merebut kekuasaan Soeharto, dan dipastikan Pak Harto akan jatuh. Tudingan dalam hal ini tentu saja mengacu pada Soemitro.

Namun Dukumen Ramadi ini justru didukung oleh ucapan Soemitro sendiri ,Soemitro kala itu sering melakukan roadshow mengunjung petinggi militer lokal di dareah, dalam salah satu kesempatan Soemitro menyebut “Jenis Kepemimpinan Baru” yang tentu saja merujuk pada gaya kepemimpinan Soeharto.
Nahas bagi Ramadi,dokumenya benar benar membuat huru hara di lingkungan jendral-jendral,petinggi militer yang tidak merasa terlibat merasa dokumen ini akan membahayakan posisinya, Ramadi ditangkap dan akhirnya meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Pandangan Soemitro Terhadap Ali Moertopo
Soemitro dikenal sebagai jenderal yang juga seorang pemikir,hingga akhir hayatnya ia masih krirtis terhadap pemerintahan walaupun hanya berkutat pada bidang parlementarian,seperti pada tahun 1997 setahun sebelum ia wafat,ia mengomentari posisi PPP dan ABRI yang dinilai tidak bermanfaat bagi parlemen.

Jenderal Soemitro dilahirkan di daerah Probolinggo 13 Januari 1927,Ayahnya merupakan aktivis PNI dan berkerja sebagai kasir di PG Gending sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.Soemitro muda tinggal di lingkungan religius di pondok pesantren hingga menginjak usia 16 tahun ia mendaftar sebagai anggota Bala Bantuan PETA, ia diterima dan akhirnya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan militer di Akademi Militer Bogor,saat agresi Belanda II meletus ia ditunjuk oleh Panglima Komando Jawa Kol.Nasution untuk melakukan teknik Wingate ,atau operasi gerilya yang diadopsi dari gaya serang perang di Burma saat itu Soemitro menjabat sebagai Sub Wehrkreise Kota Malang.

Kala itu Soemitro berhasil menjalankan tugasnya dengan baik ia ditunjuk menjadi komandan batalyon tingkat regional dan ditugaskan menumpas laskar liar di segitiga Pasuruan,Sidoarjo dan Mojokerto.
Sebagai seorang petinggi militer zaman Orba ,karrinya cukup diperhitungkan,ia menempuh Advanced Course di Fort Benning,Amerika,pendidikan yang juga pernah ditempuh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Setelah Malari meletus ia memutuskan hengkang dari dunia militer yang melambungkan namanya,ia menulis buku yang cukup membuka mata kita ,dengan judul Pankopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa Malapetaka 15 Januari ’74 .
Dalam peristiwa Malari Soemitro adalah tokoh strategis dalam kejadian berdarah tersebut, Soemitro kala itu menjabat sebagai Pangkopkamtib ,ia dituduh Rivalnya Ali Moertopo yang saat itu menjabat sebagai salah satu Aspri melakukan aksi sabotase menggulingkan Soeharto,sebuah okumen dari orang dekat Ali Moerttopo menyebutkan bahwa ia menggalang kekuatan di kampus kampus,terlepas dari itu semua Soemitro menganggap Ali Moertopo lah yang seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa Malari tersebut, Ali Moertopo memiliki otoritas yang penuh di CSIS sebuah badan merangkap pusat studi intelijen yang pastinya didukung oleh orang orang hebat dalam bidang itu, sebenarnya dugaan Ali Moertopo itu didukung dengan analisis bahwa jenderal Ali Moertopo memiliki hubungan dengan golongan ektrimis sayap kanan Islam .

Peristiwa Malari: Murni Gerakan Mahasiswa atau Konspirasi Petinggi Militer?
Sebelum adanya peristiwa Malari sebuah diskusi konstruktif sudah ada di UI ,mereka akademisi UI menyatakan sikapnya dan evaluasi tentang gerakan mahasiswa dan kelompok lain yang mengatasnamakan diri sebagai pemuda, seperti Gerakan Golongan Putih, Mahasiswa Menggugat dan lain sebagainya.

Gerakan gerakan diatas belum mampu mendobrak pemerintah, dan para pelakunya sudah terlebih dahulu dibekuk pemerintah dengan tuduhan subversif dan tuduhan yang dibuat buat lainya.
Pasca meletusnya Malari, Ali Moertopo yang kala itu duduk sebagai Asisten Pembantu Presiden menganggap para mahasiswa didukung oleh radikalis sayap kanan yang berhalauan Islam seperti orang orang eks Masyumi yang pro orde lama dan merasa sakit hati dengan Soeharto namun mahasiswa tidak serta merta membantahnya karena dalam tubuh mahasiswa sendiri ada organisasi HMI dan PSII yang memang diisi oleh orang orang eks Masyumi, anggap saja hal itu sudah tidak jadi soal tentang siapa orang orang yang terlibat, namun pendapat Soemitro yang mengatakan justru Ali Moertopo lah yang menjadi aktor intelektual,perlu diingat bahwa Ali Moertopo memiliki CSIS, organisasi memang sebagai pusat studi intelijen nasional, namun secara logika CSIS diidi oleh orang orang hebat sebagai pakar intelijen , yang menurut Soemitro adalah orang orang yang bertanggung jawab menghasut para mahasiswa, tidak ingin kalah kubu Ali Moertopo ,diwakili oleh Ramadi mengeluarkan dokumen yang telah disebutkan diatas, lalu siapakah yang menjadi aktor intelektualnya?

Dibalik pertanyaan besar yang masih melingkupi kabut peristiwa berdarah tersebut para analisis dibidang militer maupun bidang politik mengungkapkan kekuatan dua kutub magnet militer antara Ali dan Soemitro sangatlah kuat.Friksi antara dua jenderal besar tersebut membuat beberapa penggiat buku menerbitkan 12 buku rujukan yang memnceritakan kejadian berdarah tersebut.

Sumber:
id.wikipedia.org/ali moertopo
id.wikipedia.org/soemitro
id.wikipedia.org/malari

Kamis, 15 Juli 2010

SMS Salah Sambung Yang Bikin Jengkel (Lucu) ?

Komunikasi melalui telepon selular baik bicara langsung maupun via sms bila telah terjadi salah sambung, atau dapat sms yang isinya gak terlalu penting kadang bikin jengkel yang menerimanya, malah kalau bisa ingin meremas-remas kepala orang yang kirim sms itu dengan gagang sapu, tapi bila diperhatikan dari perspektif kegigihan seorang karyawan bagian procurement dan humor maka sms ini memiliki nilai yang posisif. Gak percaya? Simaklah sms salah sambung ini :

1. +628128642xxx
12-Jul-10 09:35
Slmt pg pak Rahmat, bgm kiriman semennya? Kok smp hr ini blm msk jg brgnya? Kan 2 hr yg lalu sy sdh kirim P.O apkh bpk sdh trm?

2. +628137145xxx
12-Jul-10 09:38
Maaf pak ini dgn siapa ya?, bpk salah sambung…

3. +8128642xxx
12-Jul-10 09:39
Sy Richard Mamahit pak! Lho…?! Ini kan pak Rahmat Wahono agen semen yg di Cikarang kan? Gmn pak sdh brgkt truknya?

4. +628137145xxx
12-Jul-10 09:41
Pak! (mulai jengkel) sy bukan Rahmat, sy Mulyono, sy lg di Kalimantan.

5. +068128642xxx
12_jul-10 09:43
Wahh…ini pak Mulyono agen semen yg di Kalimantan itu kan? Emang dasar agen semen di mana2 sama aja, selalu gak bisa tepat waktu klo kirim brg.

6. +628137145xxx
12-Jul-10 09:44
Anda ini siapa sih…?! Kok ngotot bener ?! sy Mulyono karyawan yg lg tugas di Kalimantan, bkn agen semen, bpk maunya apa sih !?

7. +628128642xxx
12-Jul-10 09:47
Tp ini pak Mulyono yg karyawan agen semen jg kan…? Sy cuma pengen semen yg sy pesen tlg cepet dikirim pak!

8. +628137145xxx
12-Jul-10 09:50
Anda ini sdh kurang ajar! Gak percaya klo sy bkn Rahmat yg bpk maksud. Sy Mulyono krywn kehutanan, sy tinggal di Fatmawati, Kebayoran.

9. +628128642xxx
12-Jul-10 10:05
(agak lama juga dia jawab, kayaknya sudah kesel banget sama si Richard Mamahit nih…)
Tuh kannn…!!! apalagi bpk tinggal di Fatmawati, pasti rmhnya di sebelah agen semen kan…? Ayo dong pak cepet kirim semennya!


10. +628137145xxx
12-Jul-10 11:55
(Lama gak jawab sms dari Richard Mamahit, rupanya si Mulyono udah mulai kehilangan kesadarannya, lihatlah bentuk sms-nya yang paling akhir, setelah itu dia gak pernah jawab-jawab sms lagi, barangkali dia sekarang lagi mengalami depresi berat)

“Saya rasanya kenal dengan anda….”
“Siapa anda sebenarnya…?!?!?!”

11. +628128642xxx
12-Jul-10 12:00
(Lain Mulyono, lain lagi si Richard yg memang gigih nanyain orderannya yg belum sampai juga)

“Yahhh….! Bpk mulai lupa, sy Richard pak…Richard Mamahit…yg pesen semen sama bpk”



Jakarta, 17 Juli 2010

Kejadian diatas adalah nyata adanya, cuma nama dan tempat sudah disamarkan, maaf kalau kebetulan ada yang punya nama sama, (nama asli ada pada redaksi).

Nasruddin Hore Temennya si PH

Senin, 04 Januari 2010

Refleksi Di Awal Tahun



REFLEKSI DI AWAL TAHUN

Sibuk! Itu selalu alasan yang dikemukakan, hingga pergeseran waktu dari detik ke menit, ke jam, ke hari ke bulan, tahun ke tahun gak pernah di rasa. Sungguh memang gak pernah di rasa, tahu-tahu tahun sudah berganti.

Untuk urusan pertambahan usia, pasti semua mengetahuinya, tapi ada yang terlintaskah di benak kita mau berapa lama lagi kita hidup di dunia yang fana ini? 10, 20 , 30 40 , atau 50 tahun lagi?. Kalau Allah masih berkenan memberikan kesempatan kepada kita untuk menghirup udara yang segar dan gratis ini, sudah berapa banyakkah kita bersyukur kepada Nya? Dengan cara apa kita bersyukur? Lantas adakah perubahan yang sangat berarti dalam diri kita? Sementara sesungguhnya sisa umur kita tinggal sedikit lagi.

Kalau bayi saja bisa sadar akan pertumbuhan dirinya ketimbang kita-kita ini yang sudah tua-tua, maka pertumbuhan bayi terasa lebih bermakna karena mulai dari merah, lemah tak berdaya, mulai bisa tengkurap, lantas bisa merangkak, dan berjalan, mulai dari hanya bisa ngoceh hingga lancar berbicara, semua itu bisa dilihat perkembangannya. Lantas bagaimana dengan kita-kita yang sudah berumur ini? Adakah perubahan yang sangat berarti dalam diri kita?

Kalau mau jeli sedikit, sesungguhnya kesibukkan kita di keseharian itu dan yang dikejarnya dari tahun ke tahun ya itu-itu saja. Gak percaya?! Coba saja perhatikan kalau gak ngejar-ngejar ke sana-ke mari pasti hanya untuk urusan : Yang sibuk dari tahun ke tahun ngumpulin dan numpukkin/nimbun harta, Yang bergegas pergi berbarengan dengan meleknya ayam jago hingga datang di larut malam tak jarang harus sikut kiri dan kanan, hanya untuk ngejar jabatan dan pendapatan, apa lagi coba ?! Belum lagi yang sibuk pamer dengan kekayaannya dan juga yang pamer dengan kepintarannya, serta keangkuhan, padahal untuk urusan pamer kekayaan dan kepintaran yang gak ada habisnya itu sudah diketahui dan ditakar oleh Yang Maha Memiliki Kehidupan ini sedangkan yang angkuhpun gak sadar bahwa sesungguhnya angkuh itu hanya milik Allah saja. Yang paling kasihan (kalau gak mau dibilang bodo) masih ada orang-orang yang sampai sekarang ini memperturutkan hawa nafsu, dendam kesumat hanya untuk bertikai, menebar fitnah ke sana-sini, padahal dia sendiri tidak mengetahui perubahan yang terjadi pada pihak yang dimusuhinya. Sungguh hanya kesia-siaan dan celakalah orang yang seperti ini. Sementara yang masih tenggelam dengan nikmatnya hasil korupsi, nilep harta rakyat, menyalahgunakan wewenang, tanggungjawab dan jabatan, meski sudah ketangkep lepek (basah) tetap saja dengan muka tebalnya melenggang di bumi Allah ini.

Masih seabrek lagi sikap, dan sifat buruk manusia kalau gak ada kesadaran dari sekarang untuk bertaubat dan istiqomah, lantas, kapan lagi mau dilakukan? Nunggu semuanya sudah mapan? Nunggu semuanya sudah terpenuhi? Nah…kalau Allah minta kita menghadapNya hari ini, sebelum semuanya yang kita harapkan itu terpenuhi melalui jalan dan cara yang tidak benar, bekal apakah yang akan kita bawa untuk menghadapNya di sana nanti? Seringkali memang hawa nafsu yang ada dalam diri manusia selalu mengalahkan nuarni dan akal sehat, dan bila sudah seperti itu maka hati menjadi buta dan tuli, tinggallah yang ada hanya hubbud dunya raasu kulli khathiiatin, gandrung dunia adalah sumber dari setiap kesalahan.

Manusia boleh bebal, keji, sadis, pendendam, selalu dalam sikap amarah, punya sikap korup, rakus, licik, tukang fitnah, berlisan kasar dan tajam menghunjam hati dan membuat orang menjadi terhina. Masak tidak juga sadar dengan bertambahnya usia yang berarti kesempatan hidup juga makin menipis tiap tahunnya. Ingatlah bahwa hidayah itu tidak turun begitu saja dari Allah kepada kita, tapi hidayah akan hinggap dalam qalbu ini manakala kita berniat untuk mau merubah diri kita, tanpa itu semua jangan harap hidayah akan turun pada diri kita. Janganlah hanya tinggal penyesalan yang sudah tiada gunanya, ketika ajal datang menjemput kita detik ini, siang ini, sore atau malam nanti, atau besok, mungkin lusa, semua itu tidak ada yang mengetahui kapan datangnya. Sesungguhnya itulah makna ‘Tahun Baru’ yakni mau dan ikhlas dalam meresolusi diri, walau cuma baru sedikit yang bisa dilakukan dalam merubah tabiat kurang baik dalam diri tapi hal itu akan dinilai lebih oleh Allah SWT sehingga kelak kebaikan yang sedikit itu akan memuluskan jalan kita menghadap Sang Khalik.

Mohon maaf sebelumnya apabila ada tulisan yang kurang bahkan tidak berkenan di hati saudaraku, semata tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri penulis sendiri yang masih banyak kelemahan dan kekurangan.

Jakarta, Senin. 4 Januari 2010

Prie temennya Nasruddin Hore
Tulisan tak bermakna ini sekedar hadir dalam catatan diri, dan isinya juga untuk diri sendiri.

Minggu, 29 November 2009

Kelebihan-Kelebihan Teknis Dan Non Teknis Dari Bajaj



Kelebihan-kelebihan Teknis Dan Non-Teknis Dari si Orange Bajaj :

1. Mulai dari Bajaj keluaran tahun jebot sampai yang paling mutakhir (kalau ada AC-nya), supirnya tetap aja sama (dia-dia juga, *maaf : mereka adalah mantan tukang becak yang minim pengetahuan lalu-lintasnya).
2. Suara Bajaj yang sangat bising adalah sarana sempurna buat para cowok yang sedang pacaran untuk melancarkan rayuan mautnya kepada sang pasangan, karena dijamin si supir Bajaj sendiri gak bakal denger lantaran sudah terlanjur budeg sejak dia memutuskan memilih profesi sebagai pilot Bajaj.
3. Kemampuan manuver berbeloknya yang bisa sampai 180◦ sangat memudahkan si supir buat cepet-cepet balik arah, tapi bikin gedegh, empet, kesel, enegh para pemakai jalan lainnya.
4. Suara Bajaj yang kelewat keras seringkali bikin ciut nyali para orang tua, dan anak-anak buat nyebrang jalan, sehingga mengurungkan niat mereka buat pergi ke pasar, ngambil uang pensiun di Kantor Pos, dan segala aktivitas mereka lainnya di luar.
5. Suara Bajaj yang sering menyayat hati (tuh Bajaj sudah kelewat tua) mampu mengalahkan suara merdu penyanyi tenar sekaliber Titiek Puspa sekalipun. Ya! Suara mereka tidak akan ada artinya bila mereka nyanyinya di dalam Bajaj.
6. Bajaj segala type dan tahun keluaran adalah jenis kendaraan yang sangat irit energy listriknya, sehingga ketika mereka jalan di malam hari gak perlu pakai lampu yang terang benderang macam mobil-mobil mewah keluaran terbaru. Mereka cukup mengandalkan penerangan kendaraan yang ada didepannya.
7. Bajaj sangat sarat meninggalkan sejuta kenangan manis buat warga Ibu Kota, tapi akan meninggalkan duka yang mendalam buat orang desa yang datang ke Jakarta dan langsung naik Bajaj ke tujuan sanak familinya ketika baru turun dari stasiun Senen, karena badan penumpang yang awalnya sehat itu akan “bergetar hebat” ketika turun dari Bajaj.
8. Bajaj juga dapat membuat orang yang tidak pernah dan jarang Sholat, jarang ke Gereja, ke Pura, Klenteng akan semakin mengenal dan dekat dengan Allah SWT/ Tuhannya dan akan membuat orang-orang alim dan shaleh semakin tawaddu.
9. Cuma Bajaj yang bisa dan boleh bawa ayam, kambing, bebek, sayuran duduk bareng sama penumpangnya, bahkan si pilot sering berbaik hati menawarkan penumpangnya duduk di sebelah sang supir (apalagi penumpang wanita).
10. Hampir semua supir Bajaj punya kemampuan supranatural, dan ini muskil dimilki oleh pengemudi kendaraan lain seperti: pribadi, taksi, bus, bahkan truk sekalipun, yakni kapan dia harus belok Cuma dia dan Tuhannya saja yang tahu.
11. Sekali lagi hanya Bajaj dari keluaran tahun berapapun sajalah yang memiliki rem otomatis, yakni ada di pundak supir Bajaj. Gak percaya !? coba anda ‘tepuk’ pundak dan say ‘bang’ ke sang supir, maka seketika itu juga Bajaj yang anda tumpangi akan berhenti, bisa dengan cara mendadak, atau menggeleser beberapa meter (remnya rada blong).

Kelebihan-kelebihan angkutan moda transportasi rakyat ini baru saja direnungkan dan di tulis oleh : Nasruddin Hore temennya si PH, ketika sedang ribet ngurusin kerjaan rutin.

Jakarta, 30 November 2009
NH temennya PH

Kamis, 13 Agustus 2009

Mimpin Baru Seumur Jagung Sudah Dihabisi



Era tahun 1960an adalah era kebangkitan jati diri bangsa-bangsa di negera dunia ke tiga. Ya! Di era inilah para pemimpin negara-negara dunia ke tiga dengan semangat nasionalismenya masing-masing telah berani menyatakan kata Tidak! Untuk tunduk kepada imperialis barat yang dimotori oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa Barat.

Indonesia punya Presiden Soekarno, sang founding father. Dia dengan tegas-tegas menyatakan perangnya kepada kaum imperialis dan antek-anteknya yang selalu ingin kembali menancapkan pengaruhnya di kawasan Asia. Malaysia sebagai negara yang pada saat itu sama-sama bau kencur dalam hal menghirup kemerdekaan (itupun juga bloeh dikasih) telah merasakan ‘gerah’ dan takut menghadapi kegarangan kebijakan Ganyang Malaysia yang dicanangkan oleh almarhun Soekarno.




Cuba memiliki legenda hidup Sang Idealis Sejati, Fidel Castro dengan tandem perjuangannya Dr. Che Guevara telah membuat frustrasi dan gagal totalnya Amerika Serikat dalam perang di Teluk Babi-Cuba ketika niatnya hendak menjatuhkan sang pemimpin Fidel Castro, bahkan Amerika Serikat telah dibuat malu oleh Castro, yakni Washington diminta mengganti biaya kerugian perang sebesar 53 juta USD dan ini dituruti, atas kegagalan mereka untuk menjatuhkan dan merebut Guantanamo.


























Benua hitam Afrika, tepatnya Kongo memiliki seorang Perdana Menteri yang juga tangguh dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat, Ya! Dialah Patrice Emery Lumumba, Perdana Menteri Republik Demokratik Kongo yang telah membuat geram dua utusan gedung putih ketika Patrice Lumumba di undang ke kantor pusat PBB di Washington, karena sikapnya yang tidak mudah ditundukkan untuk mengikuti kemauan Eisenhower.

Penulis tertarik mengangkat tokoh ini, karena perjalanan hidupnya yang tragis justru dia tidak lama berada di puncak karirnya sebaga Perdana Menteri setelah membantu kemerdekaan negerinya dari jarahan Belgia sekutu imperialis Amerika Serikat yang telah menghisap bumi propinsi Katanga yang kaya akan bahan tambang. Profil Patrrice Lumumba penulis angkat karena kisah tragis kematiannya telah diungkap, bahwa ajalnya kematiannya akibat ketidaksenangannya Eisenhower kepada Patrice Lumumba yang terlalu akrab dengan Uni Sovyet. Harian Tempo terbitan tahun 1981 telah mengungkap skenario pembunuhan atas dirinya, yang akan penulis sajikan dibawah ini. Ada baiknya profil singkat sang Perdana Menteri ini diperkenalkan, karena mungkin banyak diantara kita yang belum mengenal tokoh idealis ini :


Patrice Lumumba (2 Juli 1925 – 17 Januari 1961) adalah pemimpin anti-kolonial Afrika dan Perdana Menteri Republik Demokratik Kongo pertama yang dipilih secara demokratis, setelah membantu proses kemerdekaan negara itu dari Belgia pada Juni 1960. Sepuluh minggu kemudian, pemerintahan Lumumba dijatuhkan pada kudeta Krisis Kongo. Ia kemudian dipenjara dan dibunuh secara kontroversial pada Januari 1961.
Namanya pernah dijadikan nama suatu jalan di daerah Gunungsahari, Jakarta, oleh Soekarno sebagai tanda solidaritas negara-negara Asia-Afrika. Namun demikian, pada masa Orde Baru nama jalan ini diganti, karena Patrice Lumumba dianggap beraliran kiri.

Berikut, inilah kisah tragis sang pahlawan Kongo yang sempat memimpin negerinya selama sepuluh minggu, sebelum akhirnya di bunuh oleh Joe From Paris, seorang agen CIA. Simaklah skenarionya dibawah ini :

PERINTAH MEMBUNUH SANG PERDANA MENTERI :

Tokoh Kongo, Patrice Emery Lumumba, kematiannya diliputi misteri. komisi penyelidik as tak juga bisa membongkar dengan pasti keterlibatan cia dalam kasus ini.
POS dinas rahasia Amerika Serikat--CIA-di Leopoldville, ibukota Kongo, menerima kawat. Bunyinya: 'Joe dari Paris' akan datang membawa instruksi khusus untuk sebuah misi yang sangat penting. Pesan yang diterima 19 September 1960 ini dikirimkan sangat rahasia, dan hanya boleh dibaca komandan pos. Seminggu sesudah itu, 'Joe dari Paris' tiba di Leopoldville. Joe misterius itu ternyata seorang ahli bio-kimia yang punya kedudukan sangat pentin di CIA. Ia membawa sebuah kotak racun yang khusus dibuat--cairan berisi virus yang mematikan. Dan racun itu dipersiapkan untuk diri Patrice Lumumba, tokoh Kongo yang dianggap pro-Soviet--kala itu duduk di kursi perdana menteri. 'Joe dari Paris' melengkapi rencana penyingkiran itu dengan menginstruksikan: agar racun itu dicampurkan ke makanan atau odol.

"Perintah ini datang dari puncak,"katanya meyakinkan komandan pos. Yang diaiak bicara bengong. Dalam kepalanya terbayang: Dwight D. Eisenhower, Presiden Amerika Serikat. Bukan cuma si komandan pos. Siapa pun akan terkejut mendengar keterangan semacam itu. Seorang presiden yang terhormat, dari sebuah negara besar yang paling berpengaruh, membuat perintah untuk membunuh ? Kendati sudah jauh berlalu, berita ini tetap saja membuat orang jadi penasaran. Dan memang, buku yang memuat "kejutan" ini, The Congo Cables: from Eisenhower to Kennedy bakal terbit dalam waktu dekat --dan diperkirakan akan laku keras. Buku ini disusun Madeleine G. Kalb. Merupakan lamaran. Penyelidikan Komisi Frank Church yang ditunjuk Kongres Amerika Serikat. Komisi ini sendiri cukup pusing.

Kendati sudah membongkar berbagai dokumen dan mewawancarai sejumlah orang yang diduga terlibat, mereka tak juga bisa menyimpulkan dengan pasti keterlibatan CIA dalam kasus terbunuhnya Lumumba. Tapi komisi toh menyimpulkan, tak bisa disangkal CIA membuat rencana untuk membwnuh Lumumba," tulis lG. Kalb. la menuliskan ikhtisar bukunya di The New York Times Magazine. Ancar-ancar awal rencana pembunuhan itu, yang ditemukan Komisi Church, tercatat: Juli 1960. Waktu itu diselenggarakan pertemuan para pejabat Amerika Serikat dengan para pemimpin 50 negara Afrika yang baru merdeka. Lumumba hadir. Negerinya merdeka 30 Juni 1960. Tinggi, kurus, dengan pandangan yang bersinar di balik kacamatanya, Lumumba dicatat sebagai orang yang pandai pidato dan radikal. Ia disebutkan pula membentuk kabinet "kiri"--dan diduga pernah menerima suap dari Partai Komunis Belgia. CIA memberi tanda merah pada catatan itu. Dua minggu setelah Lumumba pulang, CIA membuka kembali arsip tentang tokoh ini.

Kini dengan perhatian yang jauh lebih besar. Sebab baru saja diterima berita: Lumumba memprotes kegiatan pasukan Belgia--bekas penjajah Kongo--yang belum ditarik. Berita itu jadi terasa lebih penting karena ditambahi catatan kaki: Lumumba meminta bantuan instruktur militer Uni Soviet untuk melawan "agresi imperialis" Belgia. Sebuah pertemuan khusus diselenggarakan di Departemen Luar Negeri AS. Di situ disimpulkan: Lumumba seorang komunis. "Orang ini berbahaya, dan bisa lebih kejam dari Castro," kata Allen W. Dulles, direktur CIA dan adik Menteri Luar Negeri John Foster Dulles. Akhir Juli, ketika Lumumba sekali lagi datang ke AS untuk berbicara dengan Sekjen PBB Dag Hammarskjold, para pejabat AS sekali lagi mencoba mendekati tokoh Afrika ini.

Dua orang pembantu Menteri Luar Negeri, Douglas Dillon dan Christian Herter, datang menemu Lumumba di markas besar PBB. Pendekatan ini gagal. Dalam pembicaraan, yang disebut Douglas Dillon sebagai "setengah jam penuh frustrasi," malah terjadi pertengkaran. Lumumba memaki dua tokoh AS itu sebagai "irasional dan sakit jiwa". "Impresi yang saya dapat," kata Dillon, "sangat, sangat buruk. Kita tak mungkin membuat janji dengan orang ini." 1 Agustus 196 Presiden Eisenhower mengadakan pertemuan dengan Direktorat Keamanan Departemen Luar Negeri. Topik pembicaraannya tak lain Kongo.

Dalam pertemuan itu dibahas kemungkinan jatuhnya basis militer Belgia ke tangan Soviet. Akhirnya diputuskan: AS harus siap setiap waktu dengan operasi militer, mencegah intervensi militer Soviet di Kongo. "Sesudah pertemuan inilah, muncul kemungkinan untuk menyingkirkan Lumumba," kata Douglas Dillon kepada Komisi Church kemudian. "Pentagon diperintahkan untuk menyelenggarakan pertemuan, bersama CIA membentuk sebuah tim khusus untuk misi ini." Namun Dillon belum lagi dapat memastikan, bisakah "penyingkiran" ini diartikan pembunuhan. Sebab di Departemen Luar Negeri dibentuk pula tim yang ditugasi mendekati Lumumba lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Toh usaha Deplu AS menemui kesukaran. Pertengahan Agustus timbul ketegangan antara Kongo dan PBB. Lumumba menuduh Sekjen PBB ditekan negara-negara Barat. Waktu itu, dan Hammarskjold menolak permintaan Lumumba untuk mendesak Belgia menarik mundur pasukannya dari Provinsi Katanga - daerah pertambangan yang masih berada di bawah lindungan pasukan Belgia. Lumumba mengancam kan mengusir pasukan PBB--yang diempatkan di negerinya untuk menengahi persengketaan, akibat Katanga gin berdiri sendiri. Lawrence Devlin, komandan pos CIA di Leopoldville, mengirimkan kawat dengan gambaran keadaan begini: Tokoh-tokoh komunis sudah mengambil alih pemerintahan.
Berbagai kekuatan mulai nampak, antara lain Paromunis dan kelompok-kelompok dan dibentuk orang-orang Soviet. Lumumba dengan gaya komunis telah berhasil membangkitkan rasa anti-Barat." Devlin menilai, keadaan di Kongo, sudah gawat. Ia memperkirakan, dalam waktu tak lama Kongo akan jadi Kuba kedua. Karena itu ia mengusulkan agar - mulai memikirkan kemungkinan mengganti Lumumba dengan seseorang yang pro-Barat, selama itu masih mungkin. Menghadapi perkembangan keadaan ini,
Direktorat Keamanan Deplu AS sekali lagi mengadakan pertemuan. Hadir dalam pertemuan itu: Presiden Eisenhower, Direktur CIA Allen W. Dulles dan kepala CIA divisi Afrika.

Douglas Dillon--yang kemudian ditunjuk mengepalai proyek Kongo-menjelaskan laporan Devlin dan menekankan, bila pasukan PBB diusir dari Kongo, besar kemungkinan pasukan Soviet akan masuk. Presiden Eisenhower kemudian mengambil keputusan. "Kita harus mempertahankan pasukan PBB di Kongo, kalau perlu menambahnya dengan pasukan dari Eropa, sekalipun ini bisa jadi alasan bagi Soviet untuk membuka peperangan," katanya. KEPUTUSAN Eisenhower ini dibawa ke markas PB. Namun, Dag Hammarskjold dan Henry Cabot Lodge--duta besar AS di PBB--menolak jalan keras AS. Mereka bahkan menyebutkan, PBB tak mungkin mempertahankan pasukannya bila pemerintah Kongo menolak. Eisenhower naik pitam mendengar tanggapan Hammarskjold dan Lodge. la menyebutkan Lodge salah menilai. Menurut Eisenhower, tak ada indikasi Kongo menolak kehadirari pasukan PBB. Masalah di Kongo, menurut presiden AS itu, terletak pada Lumuba yang didorong-dorong Soviet.

Di saat inilah konon Eisenhower mengajukan kemungkinan untuk "menghabisi" Lumumba, kendati tak satu pun kata yang diucapkan sang presiden segera bisa diasosiasikan dengan "membunuh ". Robert H. Johnson, seorang staf Deplu yang kebetulan ikut hadir dalam pertemuan itu memberi kesaksiannya --di bawah sumpah--kepada Komisi Church. "Presiden waktu itu menyebutkan sebuah kata, yang tak saya ingat lagi apa namun membangun asosiasi 'membunuh' pada saya," katanya. "Saya ingat betul perasaan saya waktu itu, saya sangat terkejut," kata staf Deplu itu lagi. Johnson mengakui, di saat itu ia mencoba juga memberi tafsiran lain terhadap kata-kata Presiden Eisenhower, dan memang mungkin.

Waktu itu saya sudah pikir-pikir, mungkin yang dimaksud Eisenhower adalah aksi politik," katanya. Tapi sebegitu jauh Johnson menjelaskan, itu tak dimasalahkannya benar. Sebab ia tahu, untuk perintah-perintah macam itu eufemisme senantiasa ada. Namun Dillon sendiri yang menerima langsung instruksi presiden, beranggapan tak satu pun kata yang diucapkan presiden yang bisa dihubungkan dengan pembunuhan. "Eisenhower waktu itu mengatakan: 'Kita harus berikhtiar sebisanya untuk terlepas dari orang itu.' Saya tidak melihat ini bisa diartikan sebagai perintah untuk membunuh," katanya.

Allen W. Dulles, direktur CIA yang mendapat tugas menjalankan operasi Kongo, tak sempat bisa didengar kesaksiannya. Ia sudah meninggal. Tapi menurut keterangan Dillon, direktur CIA itu tak sampai bertanya-tanya apa yang dimaksudkan presiden. "Dalam hal-hal semacam itu seorang direktur CIA tahu, dia mendapat wewenarg penuh untuk menempuh jalan apa pun," kata Dillon pada Komisi Church. Ia pun menjelaskan, bahwa seorang direktur CIA juga tahu, nama presiden senantiasa dicegah keterlibatannya dalam operasi-operasi gelap.

"Dulles tahu, dialah yang akan bertanggung jawab atas operasi apa pun yang akan dijalankan terhadap Lumumba, baik sebagai pribadi ataupun sebagai direktur ClA. Itu kewajibannya," katanya. Dan Dulles memang segera mengambil tindakan. Sehari sesudah Eisenhower marah-marah, Richard Bisell-kepala bagian operasi gelap CIA-mengirim kawat rahasia ke pos CIA di Leopoldville. lsinya menginstruksikan Lawrence Devlin untuk sebisanya mencari kelompk pengganti Lumumba, dan menggsok untuk mau merebut kekuasaan. Dua hari kemudian Devlin mengirim balasan, menjelaskan, kelompok anti-Lumumba sebenarnya sudah terhimpun. Namun kelompok itu gagalmembunuh Lumumba karena Presiden Kongo Joseph Kasavubu menolak main keras.Malahan Presiden Kongo itu berpendapat, tak ada tokoh yang lebih cemerlang daripada Lumumba di Kongo.

Di saat yang sama sejumlah informasi masuk. Kedutaan Amerika di Leopoldville melaporkan, 100 ahli teknik Soviet dan Cekoslowakia telah tiba di Kongo. Henry Cabot Lodge dari markas PBB juga mengirimkan berita, PBB mengkhawatirkan ada sejumlah senjata dimasukkan secara gelap ke Kongo. Bukan cuma itu, Kedutaan Besar AS di Athena mengirimkan laporan, sejumlah pesawat cargo yang membawa makanan dengan tujuan Kongo minta iin melewati wilayah Yunani. Diduga keras pesawat ini membawa juga senjata. Dan yang paling mengkhawatirkan AS, Lumumba memerintahkan pasukan Kongo untuk bergerak ke selatan menuju Katanga.

Perkembangan terakhir ini menimbulkan kepanikan di Deplu AS, yang lalu merambat ke Gedung Putih. 25 Agustus, Gordon Gray, pembantu khusus presiden untuk bidang keamanan, untuk kesekian kalinya menyelenggarakan pertemuan. Dalam pertemuan itu usaha menyingkirkan Lumumba lewat jalan politik dinilai kurang efektif. Cara itu hendaknya diganti dengan cara yang lebih keras yang makan waktu tidak lama. Kepada Komisi Church, Richard Bisell mengaku mendapat instruksi dari presiden lewat Gordon Gray. Dalam instruksi itu dikatakan, penggeseran Lumumba "bisa lebih agresif". Untuk itu Bisell mendapat wewenang lebih besar lagi. Ia mendapat dana khusus dan diperbolehkan mengambil keputusan tanpa konsultasi. Tentu saja, otomatis, Bisell menafsirkan instruksi ini berarti pula: "bunuh kalau perlu". Bisell lalu menghubungi Sidney Gottlieb, ahli biokimia yang jadi pembantunya. Kepada Gottlieb dikatakannya, ia mendapat instruksi dari pimpinan tertinggi untuk menyingkirkan Lumumba. Gottlieb kemudian membuat semacam racun yang berisi virus--biasanya ditemukan di Afrika--yang mematikan.

Untuk menunjukkan bagaimana racun ini harus digunakan, Gottlieb lalu diutus ke Leopoldivlle dengan nama 'Joe dari Paris'. TAPI di saat itu keadaan di Kongo tiba-tiba berubah. Lumumba dipecat Presiden Joseph Kasavubu karena operasi militernya mengakibatkan ribuan penduduk sipil tewas. Bukan cuma itu, Lumumba juga mendapat kecaman karena ia ternyata menggunakan senjata dan kendaraan-kendaraan militer buatan Soviet. Dalam keadaan kisruh itu, Devlin berhasil mendekati Kolonel Mobutu-orang kedua dalam angkatan perang Kongo--untuk merebut kekuasaan. Berhasil. Mobutu lalu memecat semua anggota kabinet "kiri", juga rnengusir diplomat dan instruktur militer Soviet dan Cekoslowakia yang ada di Kongo. Kolonel itu kemudian jadi sangat berpengaruh. Devlin menilainya sebagai rezim yang stabil. Memang, Mobutu berkuasa sampai sekarang, ia menjadi presiden dengan nama Mobutu Sese Seko. Kongo, 1971, digantinya jadi Zaire.

Namun, Devlin masih khawatir. Ia rnengirim pesan ke Washington, untuk sementara kekuatan cadangan masih harus disiapkan. Devlin menilai Lumumba masih bisa kembali berkuasa. Dulles setuju. Proyek racun Bisell yang tertunda lalu dilanjutkan, dan Gottlieb pun berangkat ke Leopoldville. Di samping itu dipersiapkan pula pasukan khusus yang direncanakan akan diselipkan di antara pasukan PBB. Merasa masih juga kurang, Dulles rnenyiapkan sejumlah penembak-penembak tepat yang diperlengkapi senjata khusus: senapan dengan peredam dan teleskop paling modern. Tapi Devlin toh kaget ketika menerima Gottlieb. "Rasanya saya tak pernah mengabari Washington, bahwa Lumumba adalah orang yang bisa menimbulkan pecahnya Perang Dunia III. Menurut saya tak mungkin perang itu akan pecah cuma gara-gara seseorang bertingkah laku aneh. Saya menilai Lumumba sebagai orang yang bisa menyulitkan kedudukan AS di Kongo. Tak lebih dari itu," kata Devlin, memberi kesaksiannya kepada Komisi Church. Lewat dua bulan sesudah kedatangan Gottlieb di Kongo, proyek racunnya dinyatakan gagal. Devlin tak bisa menemukan cara untuk mengirimkan racun Gottlieb kepada Lumumba. Dan dalam jangka waktu itu, virbs itu telah rusak karena tidak disimpan di tempat khusus. Gottlieb kembali ke Amerika Serikat, 5 Oktober, setelah membuang racunnya di Sungai Kongo. Misi Gottlieb yang gagal kemudian digantikan misi kedua, yang sudah disiapkan sebagai cadangan.

Sejumlah pasukan khusus dan penembak-penembak mahir dikirim ke Leopoldville. Bersama misi kedua ini Bisell mengutus Justin O'Donnell, seorang agen.senior ClA. O'Donnell mendapat instruksi untuk "menyingkirkan" Lumumba dengan cara apa pun. O'Donnel sendiri tak bisa memastikan apa instruksi itu berarti pula wewenang untuk membunuh. Tapi ini tak sampai ditanyakannya, karena ia mengalukan rencana yang tidak menyertakan pembunuhan. Saya akan menyiasati Lumumba, menangkapnya dan menyerahkannya kepada pemerintah Kongo untuk diadili," kata O'Donnell pada Kmisi Church, mengisahkan pengalamannya. Tapi O'Donnell tak sempat menangkap Lumumba. Lumumba menghilang dari Leopoldville sejak 27 November, setelah PBB mengumumkan delegasi Kasavubu menang dalam pemungutan suara. Lumumba lari ke Stanleyville, 180 kilometer di sebelah timur Leopoldville, basis kekuatannya sejak lama. Tapi dalam pelarian itu ia tertangkap, kemudian dipenjarakan di Thysville. Namun 13 Januari 1961 timbul keributan di Thysville.

Pasukan garnisun, Thysville yang ditugaskan menahan Lumumba minta upah tambahan pada Mobutu. Dengan ancaman: bukan sekedar melepaskan Lumumba, tapi mengembalikannya ke puncak kekuasaan. Tiga hari sesudah keributan di Thysville, Mobutu memindahkan Lumumba ke penjara Elizabethville, ibukota Provinsi Katanga yang dipimpin Moise Tshombe--musuh Lumumba sejak lama. Untuk terakhir kalinya Lumumba terlihat turun dari pesawat terbang, terikat, disepak dan dipukuli tentara Katanga, kemudian dilemparkan ke dalam jeep. Sesudah itu tak seorang pun tahu di mana Lumumba. 13 Februari, garnisun Katanga mengumumkan Lumumba melarikan diri ke hutan, dan kemungkinan besar telah dibunuh orang-orang primitif yang bermukim di hutan. Tapi tak seorang pun percaya pada pengumuman itu.
Konon Lumumba mati dibunuh tentara bayaran Belgia dan tentara Katanga, 17 Januari--hari kedatangannya di Elisabethville--atas perintah Moise Tshombe. Dengan demikian nampaknya AS tak terlibat dalam kasus pembunuhan Lumumba. Tapi ada pendapat, bahwa AS terlibat dalam kasus itu karena menghasut penguasa-penguasa baru di Kongo agar membunuh Lumumba. Hubungan ini dijalin lewat kedutaan, hingga agen-agen CIA tak begitu mengetahuinya, juga Devlin. Konon ini kemudian menjadi proyek tingkat atas. Memang, tak ada bukti-bukti yang pasti.

Lepas dari ketiga tokoh tersebut di atas yang dianggap pro komunis yang sudah mati itu, penulis tidak hendak mengungkap pandangan politiknya yang ke kiri-kirian sehingga menuai kebencian dari negara-negara yang berpaham demokratis dan sekular yang ternyata juga tidak menjamin kesejahteraan buat rakyatnya, akan tetapi penulis hanya mengangkat sisi patriotisme dan idealismenya untuk membangun jati diri bangsa yang bebas dari pengaruh tekanan pihak luar.

Jakarta, 13 Agustus 2009
Prihandhono